TANJUNG SELOR — Momen tak terduga terekam saat Gubernur Kalimantan Utara (Kaltara), Dr. H. Zainal Arifin Paliwang, S.H., M.Hum. menginisiasi acara buka puasa bersama (Bukber) dengan para insan pers dari berbagai media se-Kaltara yang digelar di Cendana Cafe and Resto Tanjung Selor pada Rabu, 18 Maret 2026 lalu.
Meski terhitung sudah seminggu lalu, namun momen tersebut kembali teringat saat video Gubernur shalat di barisan paling belakang ramai dibicarakan. Suasana hangat menyelimuti sebuah sudut di Resto tersebut. Di balik ajang pererat silaturahmi itu, terselip sebuah momen sederhana yang justru meninggalkan kesan mendalam.
Sebelum viral, acara ini memang diwarnai suasana hangat dan akrab. Tawa ringan dan obrolan santai mengalir, membangun kedekatan antara pemerintah dan para jurnalis. Tidak sekadar silaturahmi, pertemuan itu juga diharapakan untuk memperkuat sinergi komunikasi, dan kemitraan antara Pemerintah Provinsi (Pemprov) Kaltara dengan awak media.
Dalam acara tersebut, Gubernur turut didampingi Kepala Dinas Komunikasi, Informatika, Statistik, dan Persandian (DKISP) Kaltara, serta dihadiri oleh puluhan jurnalis dan perusahaan media.
Tak ketinggalan, ada momen sederhana yang mencuri perhatian ketika Gubernur ketinggalan shaf paling depan saat memasuki waktu shalat bersama di acara Bukber tersebut. Bukan hanya suasana kebersamaan yang menjadi cerita, melainkan ada satu momen kecil yang tanpa disadari berubah menjadi potret keteladanan.
Saat waktu salat tiba, para hadirin bergegas menunaikan ibadah berjamaah. Sementara Gubernur masih berusaha untuk menghabiskan makanan di piringnya, sehingga Ia pun menjadi yang terakhir mengambil wudhu.
Setelah itu, Gubernur langsung ke tempat shalat berjamaah yang sudah disediakan. Namun sayang, Gubernur telat, sehingga Ia terpaksa harus mengambil posisi di shaf paling belakang.
Di tengah kekhusyukan berjamaah, seorang wartawan yang tanpa sengaja mengabadikan pemandangan yang tak biasa, dalam tangkapan kameranya menunjukkan Gubernur sendirian tengah shalat dan berada di shaf paling belakang. Sontak, video ini dengan cepat menyebar dan ramai dibicarakan.
Momen itu kemudian menjadi bahan gurauan ringan. Dalam bincang santai selepas shalat, seorang wartawan pun melontarkan pertanyaan dengan nada bercanda, menyoroti posisi Kepala Daerah yang ‘tidak biasa’, “Kok bisa-bisanya bapak shalat di shaf paling belakang, sendirian pula?,” tanyanya.
Dengan senyum tenang, Ia menjawab sederhana. Tidak ada alasan khusus, selain karena datang paling akhir.
Ia mengaku itu hanya kebetulan lantaran masih menyelesaikan makan saat shalat telah dimulai, sehingga baru mengambil wudhu belakangan. Tanpa ragu, Ia langsung bergabung di barisan yang tersedia di belakang. Bukan karena ingin berbeda, tapi karena Ia memang datang terakhir.
“Bagaimana tidak, itu ‘kan kebetulan shalat sudah dimulai, sementara saya belum selesai makan, jadi terakhir ambil wudhu. Di mata Tuhan kita semua sama, tidak ada urusan dengan pangkat dan jabatanmu apa!, tidak peduli kamu siapa!” ucap Zainal.
Zainal menambahkan, momen itu hanya bisa dijadikan pelajaran, mengingat Tuhan tidak pernah memandang siapa, latar belakang, status, kasta, kedudukan, pangkat, jabatan, dan embel-embel lainnya. Menurutnya, seluruh makhluk di muka bumi ini adalah sama-sama menyembah Sang Pencipta.
“Dalam urusan ibadah, tidak ada tempat bagi status dan jabatan. Di hadapan Tuhan, semua manusia berdiri dalam posisi yang sama, tanpa pembeda. Harus tetap mengikuti aturan yang sama dalam shalat berjamaah. Tidak ada urusan juga harus menunggu siapa!” tuturnya menegaskan.
“Siapa pun anda, setinggi apa pun pangkat dan jabatanmu. Jangankan Gubernur, cucu nabi sekalipun, kalau datang paling lambat, sementara shalat telah berlangsung, maka posisinya harus tetap di belakang, apalagi saya yang cuma Gubernur,” lanjutnya menegaskan.
Ia juga menegaskan dengan pesan yang dalam dan ‘menampar’, bahkan andai itu stafnya yang menjadi imamnya, maka Ia wajib mengikuti aba-aba dari stafnya itu sebagai pimpinannya saat shalat.
Bagi dirinya, shalat bukan soal posisi di depan atau belakang. Bukan pula tentang siapa yang terlihat paling menonjol. Yang utama adalah soal niat dan kekhusyukannya.
Dalam refleksi singkatnya, Ia mengingatkan bahwa ibadah adalah tentang mendekatkan diri kepada Tuhan, bukan berlomba mencari tempat paling depan.
“Kita shalat itu niatnya ‘kan untuk berlomba-lomba mendapatkan rahmat dan kasih sayang Allah, bukan niat lomba supaya dapat shaf paling depan. Toh, kita di shaf paling depan atau belakang tetap nilainya sama saja di mata Tuhan, tidak bertambah dan tidak ada yang kurang nilainya. Kadang, yang terlihat paling belakang itu justru punya makna paling depan,” tutup Gubernur.
Dari jawaban sederhana itu, tersirat pesan yang jauh lebih dalam. Momen singkat itu pun menjadi lebih dari sekadar kejadian biasa. Di balik kesederhanaannya, tersirat pesan moral tentang kerendahan hati bahwa kepemimpinan tidak selalu ditunjukkan dari posisi terdepan, melainkan dari sikap yang menempatkan diri setara dengan yang lain.
Di shaf terakhir itu, publik melihat sisi lain seorang pemimpin: sederhana, apa adanya, dan penuh makna.


















