NUNUKAN – Badan Pengawas Pemilu (Bawaslu) Kabupaten Nunukan resmi membuka kompetisi Debat Pelajar Demokrasi ke-4 pada Senin (1/6/2026). Sebanyak 26 sekolah tingkat SMA, SMK, dan MA se-Kabupaten Nunukan ikut ambil bagian dalam ajang tahunan ini.
Acara yang berpusat di Kantor Bawaslu Nunukan, Jalan Ujang Dewa, Kecamatan Nunukan Selatan tersebut menjadi langkah nyata Bawaslu dalam memberikan pendidikan politik bagi generasi muda di wilayah perbatasan.
Pada laga pembuka, tim SMAIT Ibnu Sina Boarding School Nunukan langsung berhadapan dengan tim 1 SMK Negeri 1 Nunukan. Kedua tim menyajikan adu argumentasi yang sengit. Mereka saling melempar pandangan dan analisis tajam mengenai isu-isu demokrasi terkini.
Ketua Bawaslu Nunukan, Moch Yusran, menegaskan bahwa kompetisi ini bertujuan menanamkan pemahaman demokrasi yang sehat sejak dini kepada para pelajar.
“Debat Demokrasi ini merupakan wadah bagi pelajar untuk belajar menyampaikan gagasan, berpikir kritis, serta memahami nilai-nilai demokrasi yang baik dan benar, khususnya di wilayah perbatasan seperti Kabupaten Nunukan,” ujar Yusran, Senin (1/06/2026).
Usung Tema Konsolidasi Demokrasi
Tahun ini, Bawaslu Nunukan mengusung tema yang cukup berbobot, yaitu “Konsolidasi Demokrasi: Tolak Buta Politik Menyongsong Pemilu Nasional dan Daerah yang Luber dan Jurdil di Perbatasan.”
Yusran menilai tema ini sangat relevan dengan tantangan zaman. Saat ini, generasi muda membutuhkan bekal kemampuan yang kuat untuk memilah informasi dan memahami proses politik secara objektif.
“Kami berharap melalui kegiatan ini lahir generasi muda yang tidak apatis terhadap demokrasi, memiliki keberanian menyampaikan pendapat, serta mampu menjadi pelopor demokrasi yang jujur, adil, dan berintegritas di tengah masyarakat,” tambah Yusran.
Suasana kompetisi sendiri berjalan sangat edukatif. Para peserta berhasil menunjukkan kualitas terbaik mereka dalam membangun logika berpikir dan mempertahankan pendapat berbasis data serta fakta.
Rangkaian babak penyisihan ini akan berlangsung selama tiga hari, mulai 1 hingga 3 Juni 2026. Seluruh sekolah peserta akan bersaing ketat demi mengamankan tiket menuju babak selanjutnya untuk menjadi juara dalam ajang bergengsi besutan Bawaslu Nunukan ini.
Melalui program ini, Bawaslu Nunukan ingin memastikan pendidikan demokrasi tidak sekadar menjadi teori di dalam kelas, melainkan tumbuh sebagai karakter dan budaya nyata di kalangan remaja perbatasan.


















